Aneka Flora dan Fauna Terancam, Cagar Alam Pulau Sempu Butuh Pemulihan : Okezone News TV NEWS

Berita terkini hari ini menginformasikan bahwa Aneka Flora dan Fauna Terancam, Cagar Alam Pulau Sempu Butuh Pemulihan : Okezone News.

MALANG – Pulau Sempu di DesaTambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Malang, Jawa Timur merupakan cagar alam sebagaimana ditetapkan dalam SK Gubernur Hindia Belanda pada 1928. Banyak keunikan dan kekhasan terdapat di pulau seluas 877 hektare itu.

Dalam data statistik yang dikeluarkan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) 2016, ada aneka flora dan fauna di Sempu. Flora di antara adalah bendo, pisang, langsat lutung, kemiri, warukapur, wuni, bakau, gintungan, songgom, salakar, gebang, kenanga, hurumentek, kenarihutan, bintaro, pakis, jembangan, rau,dan lain-lain.

Sedangkanbeberapasatwa di antaranyakijang,kancil, lutungjawa, landak, rusa, macantutul, trenggiling, tupaitanah, kangkareng, ibishitam, elanglaut, daralaut, kuntul, rangkok, raja udang, elang, penyuhijau.

Urgensi Pulau Sempu sebagai laboratorium botanis dan hidrologis terancam desakan masyarakat yang berkunjung ke sana untuk rekreasi. Bukan untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam.

 

Dari tabel di atas jelas sekali bahwa, Pulau Sempu sebagai cagar alam perlu dipulihkan kondisinya. Sesuai amanat Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 menyebutkan bahwa, cagar alam adalah kawasan suaka alam (KSA) yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan atau keunikan jenis tumbuhan dan atau keanekaragaman tumbuhan beserta gejala alam dan ekosistemnya yang memerlukan upaya perlindungan dan pelestarian agar keberadaandan perkembangannya dapat berlangsung secara alami.

Pemanfaatan cagar alam hanya bisa dilakukan untuk kegiatan yang meliputi, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan; pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam; penyerapandan atau penyimpanan karbon; dan pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk penunjang budidaya.

Meski demikian, Balai Besar KSDA juga memiliki kewajiban rutin untuk melaksanakan evaluasi kesesuaian fungsi (EKF) setiap lima tahun dan sepuluh tahun sekali. Evaluasi ini untuk menentukan tindak lanjut pemulihan ekosistem dan atau perubahan fungsi.

Dalam perubahan fungsi juga tidak mudah karena harus ada tim terpadu yang dibentukMenteri LHK dengan melakukan riset dan pengumpulan data. Tata cara ini diatur dalam PP Nomor 104 Tahun 2015 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan.

Perubahan fungsi ini pun hanya dapat dilakukan jika sudah terjadi perubahan kondisi biofisik kawasan hutan akibat fenomena alam, lingkungan, ataumanusia; diperlukan jangka benah untuk optimalisasi fungsi dan manfaat kawasan hutan; atau cakupan luasnya sangat kecil dan dikelilingi oleh lingkungan sosial dan ekonomi akibat pembangunan di luar kegiatan kehutanan yang tidak mendukung kelangsungan proses ekologi secara alami.

Di dalam aturan penjelasannya, perubahan kondisi biofisik akibat fenomena alam antara lain akibat bencana alam. Perubahan kondisi biofisika akibat lingkungan atau manusia antara lain akibat tekanan pembangunan dan pertumbuhan penduduk.

Mengingat Pulau Sempu adalah pulau yang tidak dihuni manusia maka, Aliansi Peduli Cagar Alam Pulau Sempu menolak jika status cagar alam Pulau Sempu berubah fungsi sebagian menjadi taman wisata alam.

Juru bicara aliansi, Agni Paribrata menegaskan, kondisi Pulau Sempu saat ini lebih membutuhkan pemulihan ekosistem dan penguatan dalam upaya perlindugannya. “Ibaratnya rumah sudah dibobol pencuri, malah mau dibuka pintunya,” kata Agni, beberapa waktu lalu.

(sal)

Berita terbaru ini dikutip dari kabar berita tentang Aneka Flora dan Fauna Terancam, Cagar Alam Pulau Sempu Butuh Pemulihan : Okezone News.